PRINCESS RAFAELA
Kisah ini menceritakan tentang perjalanan hidup
seorang perempuan yang bernama Rafaela Putri Darmawan. Ela panggilan akrabnya. Saat ini sedang Kuliah Kerja Nyata di
sebuah desa tertinggal yang jauh dari perkotaan. Ela adalah gadis yang memiliki IQ di atas rata-rata dan selalu
mendapat nilai A+ di setiap mata kuliah. Di usianya yang sangat belia Ela sudah
menguasai bahasa Asing seperti Bahasa Inggris, Jepang serta korea. Ketelatenan
ayahnya lah yang membuat Ela menjadi sosok yang sempurna di mata
teman-temannya. Selain cantik luar dan dalam ternyata tersimpan kepedihan dalam
hidupnya yang tak seorang pun tau tentang keluarganya. Karena selama ini Ela
adalah sosok yang tidak suka bergaul tapi tetap ramah bila di sapa. Tak seorang
pun teman kuliahnya yang pernah main ke rumah Ela. Karena meskipun jarak rumah
dan tempat kuliah hanya sekitar 1 jam tetap saja ayahnya memintanya untuk
indekost supaya putrinya tidak kecapekan di jalan dan untuk tetap fokus dengan
kuliahnya. Ela tinggal di sebuah Asrama
Putri. Dan tidak boleh ada tamu laki-laki berkunjung ke tempat kost. Hanya
keluarga yang dapat mengunjungi penghuni kost. Dan jika ada tamu dari luar
tentu dengan menunjukkan KTP dan di persilahkan ke ruang tamu khusus di depan
dekat post satpam. Meskipun demikian Ela tidak merasa terbebani karena Ela
hanya ingin fokus kuliah dan terobsesi menjadi seperti ayahnya yang Ela pandang
sukses. Ayahnya bernama Rafael Darmawan, Ayahnya lah yang selalu Ela jadikan
cermin dalam setiap tindakan yang Ela Ambil. Ayah Ela bekerja di korea sebagai
CEO di sebuah resort di korea selatan. Meski hanya 3 bulan atau terkadang 6
bulan sekali ayahnya mengunjungi Ela di Jogjakarta. Tetapi tiap saat tiap waktu
ayah Ela meskipun sibuk selalu menyempatkan menelepon Ela.
Di posko KKN Ela satu tim dengan Dionisius William.
Dion nama panggilannya. Adalah sosok laki-laki yang juga pintar. Dengan
berbagai kegiatan di posko KKN membuat kedekatan diantara mereka. Ela yang
selama ini menutup hati dari laki-laki manapun yang ingin mendekatinya. Tapi
kali ini dengan sikap Dion yang penuh perhatian padanya, timbul perasaan yang
menurut Ela aneh. Ketika ada di dekat Dion dan begitu sebaliknya masing-masing
merasa jantung berdetak kencang tapi masing-masing tidak berani mengungkapkan
dan hanya saling memberikan perhatian dalam setiap kegiatan. Ela bertugas
mengajak les untuk anak-anak SD-SMP di sekitar posko dan juga memberikan
pelatihan Tari untuk persiapan perpisahan nanti. Sedang Dion membuat kerja
nyata di desa tersebut bersama teman-temannya seperti membantu pembangunan desa
dan memberikan bantuan material dari hasil sumbangan teman-teman KKN.
Hingga pada suatu hari orang tua Dion William
Darmawan dan Nathasya datang berkunjung ke posko untuk melihat kondisi putranya
yang biasanya hidup mewah yang kali ini harus hidup seperti orang biasa di desa
terpencil. Ibu Dion Nathasya merasa khawatir dengan kebutuhan sehingga
membawakan banyak barang untuk Dion yang mungkin di butuhkan. Sesampainya di
posko Ibu dan ayah Dion bercakap-cakap di ruang tamu bersama Dion. Dion ingin
memperkenalkan Ela ke ayahnya yang menurut Dion dengan kecakapan yang Ela
miliki akan sangat menguntungkan untuk perusahaan ayahnya kelak nantinya kalau
Ela bergabung di perusahaan ayahnya. Namun Ela tidak ada di tempat dan sedang
ada di posko lain. Beberapa waktu kemudian Ela datang dan Dion memperkenalkan
Ela pada ayah ibu Dion. Begitu melihat Ela kedua orang tua Dion langsung jatuh
hati. Ela begitu sopan dengan bahasa tubuh yang terlihat begitu terdidik. Yang
semakin membuat orang tua Dion penasaran dengan sosok Ela. Setelah
perbincangan-perbincangan mereka terlihat dekat dan orang tua Dion lain waktu
berjanji akan berkunjung kembali.
Setelah kedua orang tua Dion berpamitan, dalam
perjalanan pulang ke jakarta William merasa hatinya resah. Ada pertanyaan yang
belum sempat William utarakan karena hanya ingin dia tanyakan secara pribadi.
Namun belum ada moment yang tepat. William merasa Ela mirip sekali dengan
mantan kekasihnya. Terbesit tanya apakah Ela putri dari Putri Prameswari mantan
kekasihnya dulu. Yang saat ini tak tahu keberadaannya karena saat itu William
di jodohkan oleh pilihan orang tuanya yang tidak bisa di hindari untuk
keberlangsungan perusahaan keluarga. Sejak pernikahan William dan Nathasya,
Putri Prameswari menghilang tanpa ada kabar. William mencoba menyewa orang
untuk melakukan pencarian tapi tidak berhasil.
Di dekat posko KKN ada pasar malam dan satu tim yang
terdiri dari 9 orang yang notabene orang kota ingin sekali melihat keramaian di
desa. Semua menikmati suasana malam itu. Di situ Dion menggunakan kesempatan
untuk lebih dekat dengan Ela. Dion membelikan Jepit Rambut dan Boneka serta
naik Bianglala berdua. Malam itu menjadi moment yang tidak bisa terlupakan.
Pagi itu seperti biasa semua makan bersama dengan
satu tim yang telah di persiapkan oleh pembantu yang memang di tugaskan untuk
memasak dan mencuci pakaian anak-anak KKN. Menu hari itu adalah cumi-cumi yang
dibawakan ibu Dion Nathasya. Ela bingung, karena Ela alergi dengan cumi-cumi
dan tidak berani memakannya. Ela terdiam sambil menatap cumi-cumi antara
memakannya atau tidak. Kalau tidak memakannya Ela berfikir bahwa Ela tidak
menghormati ibu Dion yang telah jauh-jauh membawakannya. Dion melihat raut
wajah Ela yang terlihat sedih. Dan Dion menanyakan ada apa, apakah Ela alergi
dengan cumi-cumi kesukaannya. Ela pun mengangguk pelan. Akhirnya Dion
memutuskan untuk tidak sarapan juga dan mengajak Ela mencari sarapan di luar.
Bersambung ....
----ooooo000oooo----
Dua tahun kemudian.......
Siang itu Dion sekeluarga dan Ela sedang makan malam
di sebuah Rumah Makan di Jakarta. Karena project perusahaan Ayah Dion sukses
berkat kerja keras Ela. Dan kebetulan juga Kuliah Dion yang mengambil S2 di
luar negeri sedang liburan panjang jadi Dion putuskan untuk pulang ke jakarta.
Makan malam itu begitu hangat dengan canda tawa. Banyak hal yang mereka
perbincangkan tentang kesuksesan Ela di usia muda serta pengalaman Dion kuliah
di negara Kanguru. Tiba-tiba telepon William ayah Dion berdering. “Siapa Pa...?”tanya
Natasya. “Boksun, Ma...dia beberapa hari lalu tiba di jakarta dan tak undang
juga makan malam”, jawab William. “Oohh...kapan Boksun nikah Pa, usianya sudah
tidak muda lagi, apalagi yang dia kejar, sukses iya, wajah juga oke, apalagi
sih coba”, tanya Natasya. “Aku juga heran Ma,” sahut Dion. Semua tertawa. “Ela
nanti aku kenalin, sama pamannya Dion,” kata William pada Ela. “Eitz
jangan-jangan Pa....” cegah Dion. “Nanti Paman jatuh hati, lagi sama
Ela....enggak, enggak boleh!”, Seru Dion. Semua tertawa lebar. “Boleh juga Oom...”, jawab Ela sambil tersenyum sambil
memainkan alisnya. “Ela!, jangan macam-macam kamu ya?”kata Dion dengan menatap
tajam ke Ela. “Cieee...ada yang cemburu nich,” goda Natasya. Semua tertawa
kecuali Dion yang terlihat serius khawatir. Karena memang pamannya itu cukup
tampan dan Dion tahu kalau Ela itu tipe karakter perempuan yang menyukai pria
mapan. Dion benar-benar mempunyai perasaan was-was. “Dion ....Dion....”,
panggil William membuyarkan lamunan Dion. “Kamu ini kenapa sih, Papa kan tadi
Cuma bercanda”, kata William sambil menenangkan Dion.
“Annyeong Haseyo...” terdengar seseorang datang dan
mengucap salam. “degggg....” serasa jantung Ela berhenti berdetak, seluruh
tubuh terasa dingin bagai es. Ela merasa mengenali suara itu dan tidak berani
menengok orang di belakangnya. “Hai Sun Pa kabar”, sapa William menyambut
kedatangan Boksun. “Pa kabar Paman?”, sapa Dion. “Hai Sun...ni kenalin temannya
Dion”, kata Natasya kepada Boksun. Boksun memutar pandangannya menuju Ela. Mata
Boksun terbelalak. “Biasa aja apa Paman, jangan pakai ekspresi gitu deh,”
protes Dion. “Annyeong ...”, sapa Ela sambil nyengir dan
melambaikan tangan dengan berat. Boksun menatap Ela dengan tatapan tajam. “
Mianhe yo...”, kata Ela dengan ekspresi mau mati. “Mian ne...mian ne...??!!”,
balas Boksun dengan nada marah, dengan menahan tangis. Dengan nada tinggi, “
kamu tahu salahmu apa hah !,” kata Boksun kepada Ela. Keluarga Dion terperangah
karena baru kali ini juga dalam seumur hidup melihat Boksun marah. Boksun di
kenal adalah orang yang tenang dan tak pernah menunjukkan kemarahan. Tapi kali
ini William, Natasya dan Dion benar-benar di buat terperanga. Dalam hati mereka
bertanya, apa yang Ela lakukan sampai membuat Boksun begitu marah. “Follow
aa...” Boksun menarik tangan Ela menjauh dari meja makan. Dengan mata
berkaca-kaca Boksun berkata, ” Kamu masih anggap aku ini paman kamu atau
bukan?”, tanya Boksun sambil menahan tangis. “Maafkan Ela Paman, maaf...tolong
dengarkan penjelasan Ela dulu”, pinta Ela.
“ Penjelasan?...penjelasan apa?!”, jawab Boksun. “Kamu tahu betapa Paman
sangat merindukanmu, tapi apa yang kamu lakukan. Kamu ke Jakarta tanpa memberi
kabar. Padahal Pamanmu ini di Jakarta hah...”, kemarahan Boksun semakin
meledak-ledak. Ela langsung menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Boksun
dengan Erat. Sambil terisak Ela mencoba menjelaskan “ Ela hanya ingin berdiri
di atas kaki Ela sendiri tanpa membebani Papa ataupun Paman..(sambil
terisak-isak Ela melanjutkan)....di Jogja Ela adalah keponakan Paman, tapi di
Jakarta Ela hanya ingin bekerja dan jadi orang lain,” jawab Ela sambil menangis
di pelukan Boksun. “ kamu tinggal dengan keluarga William?”, tanya Boksun
dengan nada yang mulai tenang sambil membelai rambut Ela. Ela
menggeleng-gelengkan kepala. “ Lalu...?”,tanya Boksun lagi. “ Kost se”, jawab
Ela dengan rasa takut karena tahu
pamannya akan semakin marah dengan jawaban itu. “Ela..(dengan suara yang agak
di tahan) kamu di jakarta punya rumah punya keluarga tapi malah kost hah?”,kata
Boksun dengan rasa tidak percaya atas tindakan keponakannya yang begitu melukai
perasaannya karena merasa tidak di anggap. “ Kamu kost di mana ? “, tanya
Boksun kemudian. Ela menyebutkan tempat di mana bagi Boksun itu adalah tempat
yang tidak aman dan tidak layak di tempati oleh Ela. “ Ya Tuhan..., Elaaa...?”, keluh Boksun dengan nada lemas.
Ia benar-benar tidak bisa terima dengan kondisi keponakannya. Kedua orang
tuanya sudah berpisah dan masing-masing sudah punya keluarga sendiri-sendiri
namun Ela memilih hidup sebatang kara di perantauan. Kost di tempat yang kurang
layak. Boksun lemah lunglai. “ Paman....”, panggil Ela dengan mengiba. “
Maaf...”, harapnya dengan pasrah. “ Ayo....”, ajak Boksun. Belum sempat melanjutkan
kata-kata William dan keluarga datang. “Ela, Ela kenal baik dengan Boksun?”
tanya William. “ Paman Boksun adalah sahabat Papa sama Bundaku tapi Paman
Boksun sudah seperti Pamanku sendiri Oom,” jawab Ela mencoba menutupi
keadaannya, dan Boksun pun berusaha menerima dan akan meminta penjelasan atas
jawaban Ela. “ Oooh...” jawab William, Natasya dan Dion serentak. Dan Boksun hanya dapat menghela nafas. “ Ayo
Ela makan dulu”, ajak Natasya. “ Maaf Tante, tapi...”, jawab Ela terputus. Dion
mendorong pundak Ela ke arah meja makan.
Dalam perjalanan pulang.....
“ Ela, biarku antar pulang,” pinta
Boksun pada William. “ Eitz, tidak bisa”, cegah Dion. “ Jangan coba-coba Paman
dekati Ela apalagi mengambilnya dariku,” kata Dion kepada Boksun dengan tangan
di pinggang. “ Ela ingin pulang bareng siapa Sayang?”, tanya Natasya kepada
Ela. “ Paman Boksun “, jawab Ela sambil melirik arah Dion. Dion langsung
melotot. “ Apa!?”, tanya Dion dengan menarik alisnya ke atas. “ Ela, masuk
mobil”, suruh Dion dengan nada serius. Dion membukakan pintu mobil, ketika Ela
bersiap masuk tangan Boksun menarik Ela untuk membawanya pulang. “ Wah, Paman
menabuh genderang perang ini,” keluh Dion. “ Udah-udah ayo Dion masuk kita
pulang”, kata William menengahi supaya tidak terjadi hal yang tidak di
inginkan. Dion berjalan cepat ke arah mobil Boksun. Sambil menggebrak Cup mobil
Boksun sambil berteriak “ Elaaa......keluar “, bentak Dion. Namun Boksun
langsung tancap gas. Dion hanya bisa membanting kakinya.
Sesampainya di kost Ela....
“Sekarang jelaskan pada Paman kenapa
Ela tadi berbohong, hm...?”, tanya Boksun. “Paman..., selama ini Papa, Paman
dan Bunda sudah mati-matian menutupi keberadaan Ela dari keluarga Papa, Ela
pikir, karena keluarga Dion mengenal Paman itu artinya mereka juga mengenal
keluarga Papa. Jadi Ela tidak ingin usaha kalian sia-sia karena kecerobohan
Ela. Harusnya Ela nurut sama Bunda Bahwa Ela tidak boleh ke Jakarta. Tapi
Paman, Jakarta itu kan luas...Ela pikir Ela ga akan bertemu Paman, dan Ela
sengaja tidak memberi kabar bahwa Ela ke jakarta karena memang Ela ga ingin
menjadi masalah buat Paman ataupun Papa “ , jelas Ela sambil mengambil napas
panjang. “ Papa kamu berusaha membawa kamu ke Jakarta ketika kamu masih kecil,
tapi Bundamu mengancam Papamu kalau dia akan bunuh diri kalau sampai membawa
kamu ke Jakarta Ela?”...”jadi tidak benar kalau Papa dan Paman ingin menutupi
Ela dari keluarga Papa Sayang”...jelas Boksun. “ Tapi tetap saja Paman, biarkan
Ela jadi orang lain buat Paman, ya Paman ya...?”, pinta Ela memohon. “ Harusnya
Ela mendengarkan Bunda kalau Ela memang tidak boleh ke Jakarta”, Ela menyesali
perbuatannya. “ Tapi Paman bekerja di Kota Besar itu impian Ela”, kata Ela. “
Apa yang harus Ela lakukan sekarang Paman ?”, Ela merasa bingung dengan
keadaan. “ Sekarang kemasi barang-barang kamu Ela, ikut Paman pulang ”, pinta
Boksun. “ Paman....Ela tidak ingin membuat hidup Paman jadi rumit, biarkan Ela
tetap kost dan Ela akan mencari tempat kost yang lebih baik dari tempat ini“,
jawab Ela. “ sudah jangan membantah”, kata Boksun dengan lembut. “ Okey, kalau
begitu akan Paman belikan rumah yang layak,” kata Boksun sambil menatap lembut
keponakannya itu. Ela mengangguk, dan Ela tidak berani membantah dan
mengecewakan Pamannya lagi. “ Ya udah, hati-hati... tutup pintu rapat-rapat dan
jaga diri baik-baik, Paman akan cari tempat tinggal untukmu secepatnya“, kata
Boksun berpamitan dengan mengusap kepala Ela.
Sedangkan di rumah Dion......
“ Ma.....”, panggil Dion. “
Ya...sayang, ada apa?” jawab Natasya. “ Apa selama ini Paman tidak nikah-nikah
karena nunggu Ela ya?”, tanya Dion pada Ibunya. “ jangan berprasangka yang
bukan-bukan Dion “, jawab ibunya. “ Tapi aneh gitu Ma...,”, tanya Dion
penasaran. “ Ela itu cerita ga pernah ke jakarta dan baru kerja di kantor Papa
ini ke jakartanya, tapi koq abrab sama Paman. Padahal Paman juga aktifikas
banyakan di Korea”, Dion tidak habis pikir dan berusaha mencocokkan keadaan. “
Kapan mereka ketemunya ya...”, tanya Dion dalam hati. “ sudah ah Dion jangan
berpikir yang macam-macam,” nasehat Ibunya. “ Dion merasa aneh aja Ma...”,
pikir Dion. “ Paman banyak menghabiskan waktu kerja di korea, Ela lancar
berbahasa Korea, terus siapa ya orang tua Ela?”,pikir Dion lagi. Selama ini
Dion berteman baik dengan Ela tapi tidak pernah sekalipun Ela mengenalkan kedua
orang tuanya atau bercerita tentang orang tuanya siapa dan kerja dimana. “
Pa..papa.... menurut Papa Ela gimana?”,
tanya Dion tentang Ela dalam pandangan Papanya. “ Menurut Papa Ela lebih matang
dari usia yang seharusnya, pernah juga Papa melihat Ela begitu akrab dengan
beberapa relasi Bisnis Papa yang dari negara tetangga, dan Ela pun lancar
berbahasa Jepang maupun korea,” jawab Ayah Dion yang juga ikut berfikir tentang
Ela. “ Aku yakin Ela mempunyai latar belakang keluarga yang berkecimpung dalam
bisnis juga”, pikir Ayah Dion.
Beberapa hari kemudian.....
“ Boksun tunggu”, suara William
menghentikan langkah Boksun. “ Ada apa?”, tanyanya. “ Ada waktu ngopi sebentar
enggak, ada yang ingin aku tanyakan...”, jawab William. “Tentang?”, tanya
Boksun penasaran. Sesampainya di Coffee Shop mereka berdua mulai berbincang
serius. “ Sun, aku mau nanya nich. Gimana sih ceritanya kamu bisa kenal Ela dan
keluarganya?”, tanya William penasaran. Boksun hanya nyengir sambil meneguk
coffee yang disuguhkan. “ Apakah kalau aku menjawab pertanyaanmu kamu akan
melepaskannya dan membiarkanku membawanya pergi”, tanya Boksun pada William. “
Tu kan benar kata Dion, kamu suka ya sama Ela”,tanya William penasaran. Boksun
tertawa lebar. “ Serius apa Sun?”, kata William menanggapi tawa Boksun. “ Kalau
iya kenapa”, jawab Boksun menghentikan rasa penasaran William. “ Emang ga ada
apa perempuan yang kamu sukai yang seusia kamu Sun?”, tanya William menanggapi
serius jawaban Boksun. Lagi-lagi Boksun hanya tersenyum simpul menanggapi
pertanyaan-pertanyaan William. “ Sun, Ela itu kekasih Dion, jadi tolong kamu
mengalah untuk Dion. Aku rasa Ela gadis yang cocok buat Dion”, kata William
kepada Boksun. “hhmmm....”, Boksun menghela napas panjang. “ Kalau begitu
sampaikan pada Dion untuk putus dari Ela hari ini juga”, pinta Boksun. “ Kamu
ini sudah tidak waraskah Sun”, jawab William menanggapi kat-kata Boksun. “ Oh
Ya Will, aku masih ada janji dengan Client. Sampai ketemu lagi dan tolong kamu
cari pengganti Ela secepatnya, daaa.....”, Boksun berpamitan. “ Aisstt....”,
desah William.
Di kost Ela.....
Terdengar pintu di ketuk. Ela
mengintip dari balik tirai. Mengetahui pamannya yang datang Ela membukakan
pintu. “Ada apa malam-malam Paman, tidak enak di lihat tetangga ada tamu
laki-laki datang Paman”, kata Ela sambil manyun. “ ini jakarta sayang bukan di
Jogja”, jawab Boksun. “ Dah....sekarang kemasi barang-barangmu, tinggalah di
Apartemen”, kata Boksun. “ Iya..,” jawab Ela. “Paman ga bilang ke Papa kan
kalau Ela di Jakarta?”, tanya Ela penasaran. “Enggaklah”, jawab Boksun
menenangkan. Setelah mengemasi barang-barang dan berpamitan dengan ibu Kost Ela
pun pindah ke apartemen.
Beberapa hari kemudian....
“Oom....”, sapa Ela.” Silahkan duduk”,
jawab William sembari menawarkan Ela kursi. “ Oom....”, tanya Ela dengan
perasaan tidak nyaman. “ Iya ada apa Ela”, sambil menghentikan pekerjaannya
William memberi perhatian penuh akan kedatangan Ela. “ Ela ingin minta maaf
...”, Ela berhenti berkata-kata. “ Minta maaf buat apa Ela?”, sambil tersenyum
William menjawab. “ Memang apa yang kamu lakukan sampai harus minta maaf, hm...?
Oom tidak merasa kamu membuat masalah,” tambah William. Sambil menyodorkan
surat pengunduran diri “ini Oom, Ela ingin mengajukan surat pengunduran diri
Ela”, sambil menunduk dan merasa berat. Dengan perasaan berat “Kenapa...apa
kamu tidak suka bekerja disini”, tanya William merasa bersalah, dan
bertanya-tanya apa yang menyebabkan sampai Ela mengundurkan diri. “Oom tidak
bisa menerima surat pengunduran diri kamu Ela, Oom sangat membutuhkan Skill
kamu di perusahaan ini, prestasi kamu bagus, apa gaji dari Oom kurang?...kalau
begitu Oom akan menaikkan gaji kamu?”...ini...ambil kembali surat pengunduran
diri kamu...( sambil tersenyum ) kalau ada masalah kamu bicara aja tidak
apa-apa jangan sungkan-sungkan...yaa...dan pikirkanlah kembali keputusanmu
dengan matang, jangan tergesa-gesa ?” , jawab William sambil tersenyum mengembalikan
surat pengunduran diri Ela. “ Kembalilah bekerja...oh iya ini jam makan siang,
ayo kita makan bersama?”, ajak William. Ela mengangguk tanpa mampu berkata-kata
apa-apa lagi.
Di Restoran ....
“Ingin pesan apa Ela?”, tanya William.
“Kwetiau goreng, Oom?”, jawab Ela. “Minumnya?”,tanyanya lagi. “Juice Alpukat”, jawab
Ela lagi. “Kalo begitu masing-masing pesan dua ya mbak ya?”, kata William
kepada Pelayan restoran. “Baik Pak, mohon tunggu sebentar”, kata Pelayan sambil
meinggalkan mereka berdua. “Selera makan kita sama ya”,kata William sambil
mencairkan suasana yang sedari tadi Ela terlihat murung. “Ela, kalau boleh Oom
bertanya kamu ada masalah apa. Ceritakan pada Oom enggak apa-apa, Oom bisa kamu
percaya untuk tidak menceritakan pada siapa-siapa”, bujuk William kepada
Ela.”Dua hari yang lalu saya dan Dion pergi ke cinema XXI, sepulang dari sana
kebetulan bertemu Paman Boksun yang sedang keluar dari Food Court dengan teman-temannya”,
Ela berhenti sejenak mengambil nafas panjang. “Lalu”,tanya William penasaran. “
Paman minta Ela untuk menjauh dari Dion, kalau tidak Paman akan mengirim Ela ke
tempat Papa”, jelas Ela. “ Apa-apaan Boksun”, William geram dengan sikap Boksun.
“ Biar Paman Telepon Boksun dan memintanya datang ke sini untuk menjelaskan”,
william tidak bisa terima kalau putranya harus di pisahkan dengan Ela yang
menurut William Ela adalah perempuan yang sempurna meskipun sampai saat ini
William belum tahu asal usul Ela. Sambil memakan hidangan yang telah tersedia
mereka berbincang-bincang. “ Biar Oom yang menyelesaikan masalah ini dengan
Boksun “, William menawarkan. “ Jangan Oom, anggaplah bahwa Ela tidak
menceritakan hal ini pada Oom”, pinta Ela. “Tapi Ela, Oom benar-benar tidak
tidak dengan sikap Boksun. Ada hubungan apa sebenarnya diantara kalian berdua”,
tanya William. “ Ini tidak seperti yang Oom pikirkan Oom”, jelas Ela. “Boksun
menyukaimu dan ingin memilikimu Ela”, jelas William. Ela tersenyum dan “ Bukan seperti
itu Oom”, Ela menegaskan. “Lalu dengan alasan apa sampai Boksun harus
memisahkan kalian berdua Ela”,tanya William. “Paman mengenal Ela sejak Ela
lahir Oom, Paman Boksun pasti lebih tahu apa yang terbaik buat Ela dan bukan”,
meski perih dalam hati Ela namun Ela tetap berfikir positif akan hal yang di
inginkan Pamannya itu. “ Kamu tidak tanya pada Boksun kenapa Boksun meminta
kamu meninggalkan Dion”,tanya William. “ Sempat Ela bertanya dan jawaban
Paman...” “Apapun yang buat kamu bahagia meskipun nyawa menjadi taruhannya
Paman akan berusaha buat kamu bahagia (sambil menitikkan air mata) tapi kamu
dan Dion, Papamu bisa mati bunuh diri kalau sampai terjadi sesuatu di antara
kalian berdua. Jadi Paman minta tolong sama kamu untuk kali ini untuk
meninggalkan Dion demi kebaikan kamu, sekali lagi demi kebaikan kamu Ela,
begitu kata Paman”, jawab Ela. “ Untuk itu Ela mengajukan surat pengunduran
diri, meskipun Dion nantinya akan kembali kuliah tapi tetap saja Ela tidak bisa
tinggal lagi di Jakarta Oom”, jelas Ela lagi. “ Baiklah jika itu sudah menjadi
keputusan kamu, tapi Oom pesan kalau kamu butuh Oom kapanpun dan dimanapun kamu
tahu harus menelepon kemana”, pesan William. “ Iya Oom terima kasih”, jawab
Ela. Kemudian mereka kembali ke kantor.
Tengah Malam ......
Tepat pukul jam 24.00 telepon William
berdering. “ Pa...itu siapa sih malam–malam begini telepon berbunyi, tidak tahu
sopan santun benar”, kata Natasya. “ Udah biarin tidak usah di angkat nanti
juga berhenti sendiri”, jawab William. Tapi Telepon tetap saja berdering,
akhirnya telepon Natasya yang ganti berbunyi. “ Ihh siapa sih iseng malam–malam
begini”,keluh Natasya. “ Coba liat siapa yang menelepon “, tanya William. “
Boksun Pah”, jawab Natasya. William langsung menyambar handphone Natasya dan
mengangkatnya “ Ada Apa Sun?”, tanya William tiba-tiba khawatir. Sambil
terisak-isak Boksun menjawab “ jangan banyak tanya Cepat kerumah sakit sekarang
Rafaela kritis dan butuh darah. Cepat William bentak Boksun”, kata Boksun
menutup telepon. Tubuhnya Boksun lemah lunglai
di sisi tubuh Ela yang masih tidak sadarkan diri. Setengah jam kemudian William
dan Natasya sampai di RS yang di sebutkan Boksun. “ Boksun Ela kenapa?!”,tanya
William panik. “ Ela mengalami tabrak lari dan pelakunya masih dalam
pengejaran”, jawab Boksun sambil terus meratapi keadaan Ela. “ Dokter...dokter
cepat kamu temui dokter dan cek darah kamu semoga cocok dengan Ela”, pinta
Boksun. William segera menemui dokter dan melakukan prosedur. Beberapa saat
kemudian William datang. “ Sun, darahku cocok dengan Ela. Bagaimana kamu tahu
kalau darahku cocok buat Ela?”, tanya William penasaran. “ Sekarang ...sekarang
buka lebar-lebar mata kamu William!”, bentak Boksun. “ Maksud kamu apa Sun, aku
tidak mengerti?”, jawab William bingung. “ Tidakkah melihat wajah Ela saja akan
mengingatkanmu pada seseorang William,hah !?’, seru Boksun. William tersentak
kaget. “ Kamu jangan berbelit-belit maksud kamu apa Boksun!?”, sambil mengoyak
tubuh Boksun yang lemah William benar-benar tidak mengerti. “ Sekarang juga
lakukan test DNA kamu dengan Ela kalau kurang jelas William!!!”, tegas Boksun.
Sambil bibir William bergetar, William teringat Putri mantan kekasihnya yang
memang sangat mirip dengan Ela.
24 tahun lalu....
“Ada apa Putri?”, tanya William pada
Putri. “ Wajahmu terlihat pucat “, kata William khawatir. “ Aku dengar kamu di jodohkan dengan Putri
dari relasi kerja Ayah kamu?”, tanya Putri. “ Maaf Putri, iya, Ayah ingin
memperkuat perusahaan jadi salam keluarganya tidak jatuh ke tangan orang lain
dan perusahaan Ayah bisa dalam posisi aman dengan tetap memegang saham
terbesar”, jawab William. Dalam keluarga William pernikahan di atur orang tua
sehingga sang anak tidak dapat menentukan kehidupan mereka sendiri. Putri yang
merasa status sosialnya jauh di bawah William hanya bisa mencintai tanpa bisa
memiliki. Meski mengetahui hukum alam itu tapi perasaan Putri tidak bisa di
bohongi bahwa Putri terlalu mencintai William dan menyerahkan segala ia miliki
hingga membutakan matanya dan tak mampu lagi membedakan antara salah dan benar.
Dan hubungan terlarang mereka terlalu jauh. Sampai akhirnya Putri hamil dan
William tidak mengetahui hal itu. Hingga pada hari pernikahan William dengan
perempuan pilihan Ayahnya.
Putri berdiri di tengah jalan keadaan
melamun. Tiba-tiba ciitttttttttt..... sebuah mobil berusaha menghentikan
mobilnya dengan tiba-tiba. Hampir saja mobil itu menghantam tubuh Putri. Tubuh
Ela jatuh pingsan karena Shoke. Seorang pemuda turun dari mobil, saat itu
tengah malam tidak ada seorang pun di sana. “ Putri...”, teriak pemuda itu.
Ternyata pemuda itu adalah Rafael adik kandung William. Kemudian Rafael membawa
Putri ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Putri. Rafael tahu bahwa Putri
adalah kekasih kakaknya William. Dokter yang memeriksa Putri menyatakan bahwa Putri
dalam keadaan hamil. Betapa terkejutnya Rafael mengetahui hal itu. Rafael terus
berada di sisi Putri sampai akhirnya Putri tersadar. Putri menggerakkan
tangannya hingga akhirnya membuka mata. “ Dimana aku?”, tanya Putri. “ Di rumah
sakit Put”, jawab Rafael. Tiba-tiba Putri menangis histeris “ Kenapa, kenapa
aku masih hidup. Kenapa aku tidak mati saja, harusnya aku sudah mati tadi”,
kata Putri sambi terus menangis histeris. “ tenang Putri, tenang”, kata Rafael
sambil mendekap Putri yang tidak kuasa melihat keadaan Putri. “ Aku ingin mati
Rafael, aku ingin mati”, teriak dan tangis Putri histeris. “ Jangan Putri,
jangan menambah dosa lagi. Semua masalah pasti ada jalan keluar jangan putus
asa begini”, pinta rafael. “ Apa yang harus aku lakukan Fa, apa!?”, sambil
menangis Putri meratapi nasibnya. Bagaimanapun juga ada darah darmawan mengalir
dalam tubuh Janin Putri. Rafael tidak ingin hidup janin itu sia-sia. “ aku yang akan bertanggung jawab “, Rafael
memutuskan. Putri tersenyum kecut, “
bertanggung jawab untuk apa, kamu ga tahu apa-apa “, jawab Putri. “ Aku tahu
kamu sedang hamil dan anak itu harus hidup bagaimanapun juga kamu tidak boleh
menggugurkannya“, jawab Rafael. “ Bagaimana kamu tahu “, kata Putri yang
kembali menangis. “ Dokter yang bilang”, jawab Rafael.
Jogjakarta 6 bulan kemudian ......
Di sebuah rumah sakit bersalin
lahirlah seorang bayi perempuan yang siapapun bila melihatnya pasti jatuh hati
dan ingin memiliki. Bayi perempuan itu putih bersih dan sangat cantik. Panjangnya
50 cm dengan berat 3,5 kg. Rafael lah yang pertama kali menggendongnya. Ketika
menggendongnya pertama kali tumbuhlah perasaan kasih yang begitu dalam terhadap
bayi itu. Rafael sangat merasakan kehangatan menggendong bayi itu dan tak ingin
meletakkannya. Terus saja Rafael menciumi pipi bayi mungil itu. Melihat Rafael
seperti itu Putri sangat berterima kasih pada Rafael yang bersedia menjadi ayah
dan menyayangi bayinya. Bayi itu Rafael beri nama Rafaela Putri darmawan. Tidak
setiap hari Rafael bisa menemani bayi
Rafaela. Karena Rafael harus kembali ke jakarta untuk bekerja. Dan hanya bisa
pulang dalam 3 bulan sekali. Masa kecil Rafaela begitu bahagia, dia sangat
dekat dan manja dengan Papanya Rafael. Setiap apa yang Rafaela inginkan Rafael
berusaha memberikan Rafaela yang terbaik. Rafaela tumbuh menjadi seorang anak
yang sangat cantik, lincah dan pintar. Setiap moment selalu Rafael abadikan
dalam album kenangan.
8 tahun kemudian...
Ting tong....
Bel berbunyi. “ Princess, tolong
bukakan pintunya sayang”, pinta Bunda Rafaela.
“ Papa..”, teriak Rafaela.
“ Sayang( sambil berpelukan ) apa kabar my princess, hm...?”, sapa Rafael yang
begitu bahagia melihat keceriaan putrinya. Rasa lelah perjalanan Jakarta –
Jogjakarta terbayarlah sudah. “ Sayang, ini oleh2 buat Princess “, sambil
memangku putrinya yang sudah bukan anak kecil lagi. “ Hugh me, Papa rindu
sekali dengan My Princess ( sambil menciumi Pipi putrinya )”, kata Rafael." Domo Arigatou Papa", Rafaela mengucapkan terima kasih. “
Fa, ini coffee nya “, Putri menawari minuman hangat. “ Bunda, Papa itu milik Ela
jadi Bunda jangan merayu Papa dengan membuatkan coffee, Ela bisa koq bikinin
coffee Papa “, celoteh Ela. Putri dan
Rafael hanya bisa tertawa kecil melihat polah putrinya yang tidak ingin Papanya
didekati oleh siapapun juga. " Ya udah, sekarang Papa minta tolong Princess bikinin Papa Juice Jeruk ya Papa haus sekali", kata Rafael pada Putri kecilnya. " Arraseo, just a moment, I go to bring soon",jawab rafaela dengan bahasa yang di campur-campur. Sedikit-sedikit Rafael menjejali Rafaela dengan bahasa Asing.Bersambung ....