Jumat, 10 April 2015

Princess Rafaela

PRINCESS RAFAELA

      Kisah ini menceritakan tentang perjalanan hidup seorang perempuan yang bernama Rafaela Putri Darmawan. Ela panggilan akrabnya. Saat ini sedang Kuliah Kerja Nyata di sebuah desa tertinggal yang jauh dari perkotaan. Ela adalah gadis yang memiliki IQ di atas rata-rata dan selalu mendapat nilai A+ di setiap mata kuliah. Di usianya yang sangat belia Ela sudah menguasai bahasa Asing seperti Bahasa Inggris, Jepang serta korea. Ketelatenan ayahnya lah yang membuat Ela menjadi sosok yang sempurna di mata teman-temannya. Selain cantik luar dan dalam ternyata tersimpan kepedihan dalam hidupnya yang tak seorang pun tau tentang keluarganya. Karena selama ini Ela adalah sosok yang tidak suka bergaul tapi tetap ramah bila di sapa. Tak seorang pun teman kuliahnya yang pernah main ke rumah Ela. Karena meskipun jarak rumah dan tempat kuliah hanya sekitar 1 jam tetap saja ayahnya memintanya untuk indekost supaya putrinya tidak kecapekan di jalan dan untuk tetap fokus dengan kuliahnya.  Ela tinggal di sebuah Asrama Putri. Dan tidak boleh ada tamu laki-laki berkunjung ke tempat kost. Hanya keluarga yang dapat mengunjungi penghuni kost. Dan jika ada tamu dari luar tentu dengan menunjukkan KTP dan di persilahkan ke ruang tamu khusus di depan dekat post satpam. Meskipun demikian Ela tidak merasa terbebani karena Ela hanya ingin fokus kuliah dan terobsesi menjadi seperti ayahnya yang Ela pandang sukses. Ayahnya bernama Rafael Darmawan, Ayahnya lah yang selalu Ela jadikan cermin dalam setiap tindakan yang Ela Ambil. Ayah Ela bekerja di korea sebagai CEO di sebuah resort di korea selatan. Meski hanya 3 bulan atau terkadang 6 bulan sekali ayahnya mengunjungi Ela di Jogjakarta. Tetapi tiap saat tiap waktu ayah Ela meskipun sibuk selalu menyempatkan menelepon Ela.

      Di posko KKN Ela satu tim dengan Dionisius William. Dion nama panggilannya. Adalah sosok laki-laki yang juga pintar. Dengan berbagai kegiatan di posko KKN membuat kedekatan diantara mereka. Ela yang selama ini menutup hati dari laki-laki manapun yang ingin mendekatinya. Tapi kali ini dengan sikap Dion yang penuh perhatian padanya, timbul perasaan yang menurut Ela aneh. Ketika ada di dekat Dion dan begitu sebaliknya masing-masing merasa jantung berdetak kencang tapi masing-masing tidak berani mengungkapkan dan hanya saling memberikan perhatian dalam setiap kegiatan. Ela bertugas mengajak les untuk anak-anak SD-SMP di sekitar posko dan juga memberikan pelatihan Tari untuk persiapan perpisahan nanti. Sedang Dion membuat kerja nyata di desa tersebut bersama teman-temannya seperti membantu pembangunan desa dan memberikan bantuan material dari hasil sumbangan teman-teman KKN.

      Hingga pada suatu hari orang tua Dion William Darmawan dan Nathasya datang berkunjung ke posko untuk melihat kondisi putranya yang biasanya hidup mewah yang kali ini harus hidup seperti orang biasa di desa terpencil. Ibu Dion Nathasya merasa khawatir dengan kebutuhan sehingga membawakan banyak barang untuk Dion yang mungkin di butuhkan. Sesampainya di posko Ibu dan ayah Dion bercakap-cakap di ruang tamu bersama Dion. Dion ingin memperkenalkan Ela ke ayahnya yang menurut Dion dengan kecakapan yang Ela miliki akan sangat menguntungkan untuk perusahaan ayahnya kelak nantinya kalau Ela bergabung di perusahaan ayahnya. Namun Ela tidak ada di tempat dan sedang ada di posko lain. Beberapa waktu kemudian Ela datang dan Dion memperkenalkan Ela pada ayah ibu Dion. Begitu melihat Ela kedua orang tua Dion langsung jatuh hati. Ela begitu sopan dengan bahasa tubuh yang terlihat begitu terdidik. Yang semakin membuat orang tua Dion penasaran dengan sosok Ela. Setelah perbincangan-perbincangan mereka terlihat dekat dan orang tua Dion lain waktu berjanji akan berkunjung kembali.

     Setelah kedua orang tua Dion berpamitan, dalam perjalanan pulang ke jakarta William merasa hatinya resah. Ada pertanyaan yang belum sempat William utarakan karena hanya ingin dia tanyakan secara pribadi. Namun belum ada moment yang tepat. William merasa Ela mirip sekali dengan mantan kekasihnya. Terbesit tanya apakah Ela putri dari Putri Prameswari mantan kekasihnya dulu. Yang saat ini tak tahu keberadaannya karena saat itu William di jodohkan oleh pilihan orang tuanya yang tidak bisa di hindari untuk keberlangsungan perusahaan keluarga. Sejak pernikahan William dan Nathasya, Putri Prameswari menghilang tanpa ada kabar. William mencoba menyewa orang untuk melakukan pencarian tapi tidak berhasil.

       Di dekat posko KKN ada pasar malam dan satu tim yang terdiri dari 9 orang yang notabene orang kota ingin sekali melihat keramaian di desa. Semua menikmati suasana malam itu. Di situ Dion menggunakan kesempatan untuk lebih dekat dengan Ela. Dion membelikan Jepit Rambut dan Boneka serta naik Bianglala berdua. Malam itu menjadi moment yang tidak bisa terlupakan.


     Pagi itu seperti biasa semua makan bersama dengan satu tim yang telah di persiapkan oleh pembantu yang memang di tugaskan untuk memasak dan mencuci pakaian anak-anak KKN. Menu hari itu adalah cumi-cumi yang dibawakan ibu Dion Nathasya. Ela bingung, karena Ela alergi dengan cumi-cumi dan tidak berani memakannya. Ela terdiam sambil menatap cumi-cumi antara memakannya atau tidak. Kalau tidak memakannya Ela berfikir bahwa Ela tidak menghormati ibu Dion yang telah jauh-jauh membawakannya. Dion melihat raut wajah Ela yang terlihat sedih. Dan Dion menanyakan ada apa, apakah Ela alergi dengan cumi-cumi kesukaannya. Ela pun mengangguk pelan. Akhirnya Dion memutuskan untuk tidak sarapan juga dan mengajak Ela mencari sarapan di luar. 



----ooooo000oooo----
Dua tahun kemudian.......
Siang itu Dion sekeluarga dan Ela sedang makan malam di sebuah Rumah Makan di Jakarta. Karena project perusahaan Ayah Dion sukses berkat kerja keras Ela. Dan kebetulan juga Kuliah Dion yang mengambil S2 di luar negeri sedang liburan panjang jadi Dion putuskan untuk pulang ke jakarta. Makan malam itu begitu hangat dengan canda tawa. Banyak hal yang mereka perbincangkan tentang kesuksesan Ela di usia muda serta pengalaman Dion kuliah di negara Kanguru. Tiba-tiba telepon William ayah Dion berdering. “Siapa Pa...?”tanya Natasya. “Boksun, Ma...dia beberapa hari lalu tiba di jakarta dan tak undang juga makan malam”, jawab William. “Oohh...kapan Boksun nikah Pa, usianya sudah tidak muda lagi, apalagi yang dia kejar, sukses iya, wajah juga oke, apalagi sih coba”, tanya Natasya. “Aku juga heran Ma,” sahut Dion. Semua tertawa. “Ela nanti aku kenalin, sama pamannya Dion,” kata William pada Ela. “Eitz jangan-jangan Pa....” cegah Dion. “Nanti Paman jatuh hati, lagi sama Ela....enggak, enggak boleh!”, Seru Dion. Semua tertawa lebar. “Boleh juga  Oom...”, jawab Ela sambil tersenyum sambil memainkan alisnya. “Ela!, jangan macam-macam kamu ya?”kata Dion dengan menatap tajam ke Ela. “Cieee...ada yang cemburu nich,” goda Natasya. Semua tertawa kecuali Dion yang terlihat serius khawatir. Karena memang pamannya itu cukup tampan dan Dion tahu kalau Ela itu tipe karakter perempuan yang menyukai pria mapan. Dion benar-benar mempunyai perasaan was-was. “Dion ....Dion....”, panggil William membuyarkan lamunan Dion. “Kamu ini kenapa sih, Papa kan tadi Cuma bercanda”, kata William sambil menenangkan Dion.
Annyeong Haseyo...” terdengar seseorang datang dan mengucap salam. “degggg....” serasa jantung Ela berhenti berdetak, seluruh tubuh terasa dingin bagai es. Ela merasa mengenali suara itu dan tidak berani menengok orang di belakangnya. “Hai Sun Pa kabar”, sapa William menyambut kedatangan Boksun. “Pa kabar Paman?”, sapa Dion. “Hai Sun...ni kenalin temannya Dion”, kata Natasya kepada Boksun. Boksun memutar pandangannya menuju Ela. Mata Boksun terbelalak. “Biasa aja apa Paman, jangan pakai ekspresi gitu deh,” protes Dion. “Annyeong ...”, sapa Ela sambil nyengir dan melambaikan tangan dengan berat. Boksun menatap Ela dengan tatapan tajam. “ Mianhe yo...”, kata Ela dengan ekspresi mau mati. “Mian ne...mian ne...??!!”, balas Boksun dengan nada marah, dengan menahan tangis. Dengan nada tinggi, “ kamu tahu salahmu apa hah !,” kata Boksun kepada Ela. Keluarga Dion terperangah karena baru kali ini juga dalam seumur hidup melihat Boksun marah. Boksun di kenal adalah orang yang tenang dan tak pernah menunjukkan kemarahan. Tapi kali ini William, Natasya dan Dion benar-benar di buat terperanga. Dalam hati mereka bertanya, apa yang Ela lakukan sampai membuat Boksun begitu marah. “Follow aa...” Boksun menarik tangan Ela menjauh dari meja makan. Dengan mata berkaca-kaca Boksun berkata, ” Kamu masih anggap aku ini paman kamu atau bukan?”, tanya Boksun sambil menahan tangis. “Maafkan Ela Paman, maaf...tolong dengarkan penjelasan Ela dulu”, pinta Ela.  “ Penjelasan?...penjelasan apa?!”, jawab Boksun. “Kamu tahu betapa Paman sangat merindukanmu, tapi apa yang kamu lakukan. Kamu ke Jakarta tanpa memberi kabar. Padahal Pamanmu ini di Jakarta hah...”, kemarahan Boksun semakin meledak-ledak. Ela langsung menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Boksun dengan Erat. Sambil terisak Ela mencoba menjelaskan “ Ela hanya ingin berdiri di atas kaki Ela sendiri tanpa membebani Papa ataupun Paman..(sambil terisak-isak Ela melanjutkan)....di Jogja Ela adalah keponakan Paman, tapi di Jakarta Ela hanya ingin bekerja dan jadi orang lain,” jawab Ela sambil menangis di pelukan Boksun. “ kamu tinggal dengan keluarga William?”, tanya Boksun dengan nada yang mulai tenang sambil membelai rambut Ela. Ela menggeleng-gelengkan kepala. “ Lalu...?”,tanya Boksun lagi. “ Kost se”, jawab Ela dengan rasa takut  karena tahu pamannya akan semakin marah dengan jawaban itu. “Ela..(dengan suara yang agak di tahan) kamu di jakarta punya rumah punya keluarga tapi malah kost hah?”,kata Boksun dengan rasa tidak percaya atas tindakan keponakannya yang begitu melukai perasaannya karena merasa tidak di anggap. “ Kamu kost di mana ? “, tanya Boksun kemudian. Ela menyebutkan tempat di mana bagi Boksun itu adalah tempat yang tidak aman dan tidak layak di tempati oleh Ela. “ Ya Tuhan...,  Elaaa...?”, keluh Boksun dengan nada lemas. Ia benar-benar tidak bisa terima dengan kondisi keponakannya. Kedua orang tuanya sudah berpisah dan masing-masing sudah punya keluarga sendiri-sendiri namun Ela memilih hidup sebatang kara di perantauan. Kost di tempat yang kurang layak. Boksun lemah lunglai. “ Paman....”, panggil Ela dengan mengiba. “ Maaf...”, harapnya dengan pasrah. “ Ayo....”, ajak Boksun. Belum sempat melanjutkan kata-kata William dan keluarga datang. “Ela, Ela kenal baik dengan Boksun?” tanya William. “ Paman Boksun adalah sahabat Papa sama Bundaku tapi Paman Boksun sudah seperti Pamanku sendiri Oom,” jawab Ela mencoba menutupi keadaannya, dan Boksun pun berusaha menerima dan akan meminta penjelasan atas jawaban Ela. “ Oooh...” jawab William, Natasya dan Dion serentak.  Dan Boksun hanya dapat menghela nafas. “ Ayo Ela makan dulu”, ajak Natasya. “ Maaf Tante, tapi...”, jawab Ela terputus. Dion mendorong pundak Ela ke arah meja makan.

Dalam perjalanan pulang.....
“ Ela, biarku antar pulang,” pinta Boksun pada William. “ Eitz, tidak bisa”, cegah Dion. “ Jangan coba-coba Paman dekati Ela apalagi mengambilnya dariku,” kata Dion kepada Boksun dengan tangan di pinggang. “ Ela ingin pulang bareng siapa Sayang?”, tanya Natasya kepada Ela. “ Paman Boksun “, jawab Ela sambil melirik arah Dion. Dion langsung melotot. “ Apa!?”, tanya Dion dengan menarik alisnya ke atas. “ Ela, masuk mobil”, suruh Dion dengan nada serius. Dion membukakan pintu mobil, ketika Ela bersiap masuk tangan Boksun menarik Ela untuk membawanya pulang. “ Wah, Paman menabuh genderang perang ini,” keluh Dion. “ Udah-udah ayo Dion masuk kita pulang”, kata William menengahi supaya tidak terjadi hal yang tidak di inginkan. Dion berjalan cepat ke arah mobil Boksun. Sambil menggebrak Cup mobil Boksun sambil berteriak “ Elaaa......keluar “, bentak Dion. Namun Boksun langsung tancap gas. Dion hanya bisa membanting kakinya.

Sesampainya di kost Ela....
“Sekarang jelaskan pada Paman kenapa Ela tadi berbohong, hm...?”, tanya Boksun. “Paman..., selama ini Papa, Paman dan Bunda sudah mati-matian menutupi keberadaan Ela dari keluarga Papa, Ela pikir, karena keluarga Dion mengenal Paman itu artinya mereka juga mengenal keluarga Papa. Jadi Ela tidak ingin usaha kalian sia-sia karena kecerobohan Ela. Harusnya Ela nurut sama Bunda Bahwa Ela tidak boleh ke Jakarta. Tapi Paman, Jakarta itu kan luas...Ela pikir Ela ga akan bertemu Paman, dan Ela sengaja tidak memberi kabar bahwa Ela ke jakarta karena memang Ela ga ingin menjadi masalah buat Paman ataupun Papa “ , jelas Ela sambil mengambil napas panjang. “ Papa kamu berusaha membawa kamu ke Jakarta ketika kamu masih kecil, tapi Bundamu mengancam Papamu kalau dia akan bunuh diri kalau sampai membawa kamu ke Jakarta Ela?”...”jadi tidak benar kalau Papa dan Paman ingin menutupi Ela dari keluarga Papa Sayang”...jelas Boksun. “ Tapi tetap saja Paman, biarkan Ela jadi orang lain buat Paman, ya Paman ya...?”, pinta Ela memohon. “ Harusnya Ela mendengarkan Bunda kalau Ela memang tidak boleh ke Jakarta”, Ela menyesali perbuatannya. “ Tapi Paman bekerja di Kota Besar itu impian Ela”, kata Ela. “ Apa yang harus Ela lakukan sekarang Paman ?”, Ela merasa bingung dengan keadaan. “ Sekarang kemasi barang-barang kamu Ela, ikut Paman pulang ”, pinta Boksun. “ Paman....Ela tidak ingin membuat hidup Paman jadi rumit, biarkan Ela tetap kost dan Ela akan mencari tempat kost yang lebih baik dari tempat ini“, jawab Ela. “ sudah jangan membantah”, kata Boksun dengan lembut. “ Okey, kalau begitu akan Paman belikan rumah yang layak,” kata Boksun sambil menatap lembut keponakannya itu. Ela mengangguk, dan Ela tidak berani membantah dan mengecewakan Pamannya lagi. “ Ya udah, hati-hati... tutup pintu rapat-rapat dan jaga diri baik-baik, Paman akan cari tempat tinggal untukmu secepatnya“, kata Boksun berpamitan dengan mengusap kepala Ela.

Sedangkan di rumah Dion......
“ Ma.....”, panggil Dion. “ Ya...sayang, ada apa?” jawab Natasya. “ Apa selama ini Paman tidak nikah-nikah karena nunggu Ela ya?”, tanya Dion pada Ibunya. “ jangan berprasangka yang bukan-bukan Dion “, jawab ibunya. “ Tapi aneh gitu Ma...,”, tanya Dion penasaran. “ Ela itu cerita ga pernah ke jakarta dan baru kerja di kantor Papa ini ke jakartanya, tapi koq abrab sama Paman. Padahal Paman juga aktifikas banyakan di Korea”, Dion tidak habis pikir dan berusaha mencocokkan keadaan. “ Kapan mereka ketemunya ya...”, tanya Dion dalam hati. “ sudah ah Dion jangan berpikir yang macam-macam,” nasehat Ibunya. “ Dion merasa aneh aja Ma...”, pikir Dion. “ Paman banyak menghabiskan waktu kerja di korea, Ela lancar berbahasa Korea, terus siapa ya orang tua Ela?”,pikir Dion lagi. Selama ini Dion berteman baik dengan Ela tapi tidak pernah sekalipun Ela mengenalkan kedua orang tuanya atau bercerita tentang orang tuanya siapa dan kerja dimana. “ Pa..papa.... menurut  Papa Ela gimana?”, tanya Dion tentang Ela dalam pandangan Papanya. “ Menurut Papa Ela lebih matang dari usia yang seharusnya, pernah juga Papa melihat Ela begitu akrab dengan beberapa relasi Bisnis Papa yang dari negara tetangga, dan Ela pun lancar berbahasa Jepang maupun korea,” jawab Ayah Dion yang juga ikut berfikir tentang Ela. “ Aku yakin Ela mempunyai latar belakang keluarga yang berkecimpung dalam bisnis juga”, pikir Ayah Dion.

Beberapa hari kemudian.....
“ Boksun tunggu”, suara William menghentikan langkah Boksun. “ Ada apa?”, tanyanya. “ Ada waktu ngopi sebentar enggak, ada yang ingin aku tanyakan...”, jawab William. “Tentang?”, tanya Boksun penasaran. Sesampainya di Coffee Shop mereka berdua mulai berbincang serius. “ Sun, aku mau nanya nich. Gimana sih ceritanya kamu bisa kenal Ela dan keluarganya?”, tanya William penasaran. Boksun hanya nyengir sambil meneguk coffee yang disuguhkan. “ Apakah kalau aku menjawab pertanyaanmu kamu akan melepaskannya dan membiarkanku membawanya pergi”, tanya Boksun pada William. “ Tu kan benar kata Dion, kamu suka ya sama Ela”,tanya William penasaran. Boksun tertawa lebar. “ Serius apa Sun?”, kata William menanggapi tawa Boksun. “ Kalau iya kenapa”, jawab Boksun menghentikan rasa penasaran William. “ Emang ga ada apa perempuan yang kamu sukai yang seusia kamu Sun?”, tanya William menanggapi serius jawaban Boksun. Lagi-lagi Boksun hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan-pertanyaan William. “ Sun, Ela itu kekasih Dion, jadi tolong kamu mengalah untuk Dion. Aku rasa Ela gadis yang cocok buat Dion”, kata William kepada Boksun. “hhmmm....”, Boksun menghela napas panjang. “ Kalau begitu sampaikan pada Dion untuk putus dari Ela hari ini juga”, pinta Boksun. “ Kamu ini sudah tidak waraskah Sun”, jawab William menanggapi kat-kata Boksun. “ Oh Ya Will, aku masih ada janji dengan Client. Sampai ketemu lagi dan tolong kamu cari pengganti Ela secepatnya, daaa.....”, Boksun berpamitan. “ Aisstt....”, desah William.

Di kost Ela.....
Terdengar pintu di ketuk. Ela mengintip dari balik tirai. Mengetahui pamannya yang datang Ela membukakan pintu. “Ada apa malam-malam Paman, tidak enak di lihat tetangga ada tamu laki-laki datang Paman”, kata Ela sambil manyun. “ ini jakarta sayang bukan di Jogja”, jawab Boksun. “ Dah....sekarang kemasi barang-barangmu, tinggalah di Apartemen”, kata Boksun. “ Iya..,” jawab Ela. “Paman ga bilang ke Papa kan kalau Ela di Jakarta?”, tanya Ela penasaran. “Enggaklah”, jawab Boksun menenangkan. Setelah mengemasi barang-barang dan berpamitan dengan ibu Kost Ela pun pindah ke apartemen.


Beberapa hari kemudian....
“Oom....”, sapa Ela.” Silahkan duduk”, jawab William sembari menawarkan Ela kursi. “ Oom....”, tanya Ela dengan perasaan tidak nyaman. “ Iya ada apa Ela”, sambil menghentikan pekerjaannya William memberi perhatian penuh akan kedatangan Ela. “ Ela ingin minta maaf ...”, Ela berhenti berkata-kata. “ Minta maaf buat apa Ela?”, sambil tersenyum William menjawab. “ Memang apa yang kamu lakukan sampai harus minta maaf, hm...? Oom tidak merasa kamu membuat masalah,” tambah William. Sambil menyodorkan surat pengunduran diri “ini Oom, Ela ingin mengajukan surat pengunduran diri Ela”, sambil menunduk dan merasa berat. Dengan perasaan berat “Kenapa...apa kamu tidak suka bekerja disini”, tanya William merasa bersalah, dan bertanya-tanya apa yang menyebabkan sampai Ela mengundurkan diri. “Oom tidak bisa menerima surat pengunduran diri kamu Ela, Oom sangat membutuhkan Skill kamu di perusahaan ini, prestasi kamu bagus, apa gaji dari Oom kurang?...kalau begitu Oom akan menaikkan gaji kamu?”...ini...ambil kembali surat pengunduran diri kamu...( sambil tersenyum ) kalau ada masalah kamu bicara aja tidak apa-apa jangan sungkan-sungkan...yaa...dan pikirkanlah kembali keputusanmu dengan matang, jangan tergesa-gesa ?” , jawab William sambil tersenyum mengembalikan surat pengunduran diri Ela. “ Kembalilah bekerja...oh iya ini jam makan siang, ayo kita makan bersama?”, ajak William. Ela mengangguk tanpa mampu berkata-kata apa-apa lagi.

Di Restoran ....
“Ingin pesan apa Ela?”, tanya William. “Kwetiau goreng, Oom?”, jawab Ela. “Minumnya?”,tanyanya lagi. “Juice Alpukat”, jawab Ela lagi. “Kalo begitu masing-masing pesan dua ya mbak ya?”, kata William kepada Pelayan restoran. “Baik Pak, mohon tunggu sebentar”, kata Pelayan sambil meinggalkan mereka berdua. “Selera makan kita sama ya”,kata William sambil mencairkan suasana yang sedari tadi Ela terlihat murung. “Ela, kalau boleh Oom bertanya kamu ada masalah apa. Ceritakan pada Oom enggak apa-apa, Oom bisa kamu percaya untuk tidak menceritakan pada siapa-siapa”, bujuk William kepada Ela.”Dua hari yang lalu saya dan Dion pergi ke cinema XXI, sepulang dari sana kebetulan bertemu Paman Boksun yang sedang keluar dari Food Court dengan teman-temannya”, Ela berhenti sejenak mengambil nafas panjang. “Lalu”,tanya William penasaran. “ Paman minta Ela untuk menjauh dari Dion, kalau tidak Paman akan mengirim Ela ke tempat Papa”, jelas Ela. “ Apa-apaan Boksun”, William geram dengan sikap Boksun. “ Biar Paman Telepon Boksun dan memintanya datang ke sini untuk menjelaskan”, william tidak bisa terima kalau putranya harus di pisahkan dengan Ela yang menurut William Ela adalah perempuan yang sempurna meskipun sampai saat ini William belum tahu asal usul Ela. Sambil memakan hidangan yang telah tersedia mereka berbincang-bincang. “ Biar Oom yang menyelesaikan masalah ini dengan Boksun “, William menawarkan. “ Jangan Oom, anggaplah bahwa Ela tidak menceritakan hal ini pada Oom”, pinta Ela. “Tapi Ela, Oom benar-benar tidak tidak dengan sikap Boksun. Ada hubungan apa sebenarnya diantara kalian berdua”, tanya William. “ Ini tidak seperti yang Oom pikirkan Oom”, jelas Ela. “Boksun menyukaimu dan ingin memilikimu Ela”, jelas William. Ela tersenyum dan “ Bukan seperti itu Oom”, Ela menegaskan. “Lalu dengan alasan apa sampai Boksun harus memisahkan kalian berdua Ela”,tanya William. “Paman mengenal Ela sejak Ela lahir Oom, Paman Boksun pasti lebih tahu apa yang terbaik buat Ela dan bukan”, meski perih dalam hati Ela namun Ela tetap berfikir positif akan hal yang di inginkan Pamannya itu. “ Kamu tidak tanya pada Boksun kenapa Boksun meminta kamu meninggalkan Dion”,tanya William. “ Sempat Ela bertanya dan jawaban Paman...” “Apapun yang buat kamu bahagia meskipun nyawa menjadi taruhannya Paman akan berusaha buat kamu bahagia (sambil menitikkan air mata) tapi kamu dan Dion, Papamu bisa mati bunuh diri kalau sampai terjadi sesuatu di antara kalian berdua. Jadi Paman minta tolong sama kamu untuk kali ini untuk meninggalkan Dion demi kebaikan kamu, sekali lagi demi kebaikan kamu Ela, begitu kata Paman”, jawab Ela. “ Untuk itu Ela mengajukan surat pengunduran diri, meskipun Dion nantinya akan kembali kuliah tapi tetap saja Ela tidak bisa tinggal lagi di Jakarta Oom”, jelas Ela lagi. “ Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan kamu, tapi Oom pesan kalau kamu butuh Oom kapanpun dan dimanapun kamu tahu harus menelepon kemana”, pesan William. “ Iya Oom terima kasih”, jawab Ela. Kemudian mereka kembali ke kantor.

Tengah Malam ......
Tepat pukul jam 24.00 telepon William berdering. “ Pa...itu siapa sih malam–malam begini telepon berbunyi, tidak tahu sopan santun benar”, kata Natasya. “ Udah biarin tidak usah di angkat nanti juga berhenti sendiri”, jawab William. Tapi Telepon tetap saja berdering, akhirnya telepon Natasya yang ganti berbunyi. “ Ihh siapa sih iseng malam–malam begini”,keluh Natasya. “ Coba liat siapa yang menelepon “, tanya William. “ Boksun Pah”, jawab Natasya. William langsung menyambar handphone Natasya dan mengangkatnya “ Ada Apa Sun?”, tanya William tiba-tiba khawatir. Sambil terisak-isak Boksun menjawab “ jangan banyak tanya Cepat kerumah sakit sekarang Rafaela kritis dan butuh darah. Cepat William bentak Boksun”, kata Boksun menutup telepon. Tubuhnya  Boksun lemah lunglai di sisi tubuh Ela yang masih tidak sadarkan diri. Setengah jam kemudian William dan Natasya sampai di RS yang di sebutkan Boksun. “ Boksun Ela kenapa?!”,tanya William panik. “ Ela mengalami tabrak lari dan pelakunya masih dalam pengejaran”, jawab Boksun sambil terus meratapi keadaan Ela. “ Dokter...dokter cepat kamu temui dokter dan cek darah kamu semoga cocok dengan Ela”, pinta Boksun. William segera menemui dokter dan melakukan prosedur. Beberapa saat kemudian William datang. “ Sun, darahku cocok dengan Ela. Bagaimana kamu tahu kalau darahku cocok buat Ela?”, tanya William penasaran. “ Sekarang ...sekarang buka lebar-lebar mata kamu William!”, bentak Boksun. “ Maksud kamu apa Sun, aku tidak mengerti?”, jawab William bingung. “ Tidakkah melihat wajah Ela saja akan mengingatkanmu pada seseorang William,hah !?’, seru Boksun. William tersentak kaget. “ Kamu jangan berbelit-belit maksud kamu apa Boksun!?”, sambil mengoyak tubuh Boksun yang lemah William benar-benar tidak mengerti. “ Sekarang juga lakukan test DNA kamu dengan Ela kalau kurang jelas William!!!”, tegas Boksun. Sambil bibir William bergetar, William teringat Putri mantan kekasihnya yang memang sangat mirip dengan Ela.

24 tahun lalu....
“Ada apa Putri?”, tanya William pada Putri. “ Wajahmu terlihat pucat “, kata William khawatir.  “ Aku dengar kamu di jodohkan dengan Putri dari relasi kerja Ayah kamu?”, tanya Putri. “ Maaf Putri, iya, Ayah ingin memperkuat perusahaan jadi salam keluarganya tidak jatuh ke tangan orang lain dan perusahaan Ayah bisa dalam posisi aman dengan tetap memegang saham terbesar”, jawab William. Dalam keluarga William pernikahan di atur orang tua sehingga sang anak tidak dapat menentukan kehidupan mereka sendiri. Putri yang merasa status sosialnya jauh di bawah William hanya bisa mencintai tanpa bisa memiliki. Meski mengetahui hukum alam itu tapi perasaan Putri tidak bisa di bohongi bahwa Putri terlalu mencintai William dan menyerahkan segala ia miliki hingga membutakan matanya dan tak mampu lagi membedakan antara salah dan benar. Dan hubungan terlarang mereka terlalu jauh. Sampai akhirnya Putri hamil dan William tidak mengetahui hal itu. Hingga pada hari pernikahan William dengan perempuan pilihan Ayahnya.

Putri berdiri di tengah jalan keadaan melamun. Tiba-tiba ciitttttttttt..... sebuah mobil berusaha menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba. Hampir saja mobil itu menghantam tubuh Putri. Tubuh Ela jatuh pingsan karena Shoke. Seorang pemuda turun dari mobil, saat itu tengah malam tidak ada seorang pun di sana. “ Putri...”, teriak pemuda itu. Ternyata pemuda itu adalah Rafael adik kandung William. Kemudian Rafael membawa Putri ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Putri. Rafael tahu bahwa Putri adalah kekasih kakaknya William. Dokter yang memeriksa Putri menyatakan bahwa Putri dalam keadaan hamil. Betapa terkejutnya Rafael mengetahui hal itu. Rafael terus berada di sisi Putri sampai akhirnya Putri tersadar. Putri menggerakkan tangannya hingga akhirnya membuka mata. “ Dimana aku?”, tanya Putri. “ Di rumah sakit Put”, jawab Rafael. Tiba-tiba Putri menangis histeris “ Kenapa, kenapa aku masih hidup. Kenapa aku tidak mati saja, harusnya aku sudah mati tadi”, kata Putri sambi terus menangis histeris. “ tenang Putri, tenang”, kata Rafael sambil mendekap Putri yang tidak kuasa melihat keadaan Putri. “ Aku ingin mati Rafael, aku ingin mati”, teriak dan tangis Putri histeris. “ Jangan Putri, jangan menambah dosa lagi. Semua masalah pasti ada jalan keluar jangan putus asa begini”, pinta rafael. “ Apa yang harus aku lakukan Fa, apa!?”, sambil menangis Putri meratapi nasibnya. Bagaimanapun juga ada darah darmawan mengalir dalam tubuh Janin Putri. Rafael tidak ingin hidup janin itu sia-sia. “  aku yang akan bertanggung jawab “, Rafael memutuskan. Putri tersenyum kecut,  “ bertanggung jawab untuk apa, kamu ga tahu apa-apa “, jawab Putri. “ Aku tahu kamu sedang hamil dan anak itu harus hidup bagaimanapun juga kamu tidak boleh menggugurkannya“, jawab Rafael. “ Bagaimana kamu tahu “, kata Putri yang kembali menangis. “ Dokter yang bilang”, jawab Rafael.

Jogjakarta 6 bulan kemudian ......
Di sebuah rumah sakit bersalin lahirlah seorang bayi perempuan yang siapapun bila melihatnya pasti jatuh hati dan ingin memiliki. Bayi perempuan itu putih bersih dan sangat cantik. Panjangnya 50 cm dengan berat 3,5 kg. Rafael lah yang pertama kali menggendongnya. Ketika menggendongnya pertama kali tumbuhlah perasaan kasih yang begitu dalam terhadap bayi itu. Rafael sangat merasakan kehangatan menggendong bayi itu dan tak ingin meletakkannya. Terus saja Rafael menciumi pipi bayi mungil itu. Melihat Rafael seperti itu Putri sangat berterima kasih pada Rafael yang bersedia menjadi ayah dan menyayangi bayinya. Bayi itu Rafael beri nama Rafaela Putri darmawan. Tidak setiap hari Rafael  bisa menemani bayi Rafaela. Karena Rafael harus kembali ke jakarta untuk bekerja. Dan hanya bisa pulang dalam 3 bulan sekali. Masa kecil Rafaela begitu bahagia, dia sangat dekat dan manja dengan Papanya Rafael. Setiap apa yang Rafaela inginkan Rafael berusaha memberikan Rafaela yang terbaik. Rafaela tumbuh menjadi seorang anak yang sangat cantik, lincah dan pintar. Setiap moment selalu Rafael abadikan dalam album kenangan.

8 tahun kemudian...
Ting tong....
Bel berbunyi. “ Princess, tolong bukakan pintunya sayang”, pinta Bunda Rafaela.
“ Papa..”, teriak Rafaela. “ Sayang( sambil berpelukan ) apa kabar my princess, hm...?”, sapa Rafael yang begitu bahagia melihat keceriaan putrinya. Rasa lelah perjalanan Jakarta – Jogjakarta terbayarlah sudah. “ Sayang, ini oleh2 buat Princess “, sambil memangku putrinya yang sudah bukan anak kecil lagi. “ Hugh me, Papa rindu sekali dengan My Princess ( sambil menciumi Pipi putrinya )”, kata Rafael." Domo Arigatou Papa", Rafaela mengucapkan terima kasih. “ Fa, ini coffee nya “, Putri menawari minuman hangat. “ Bunda, Papa itu milik Ela jadi Bunda jangan merayu Papa dengan membuatkan coffee, Ela bisa koq bikinin coffee Papa “, celoteh Ela.  Putri dan Rafael hanya bisa tertawa kecil melihat polah putrinya yang tidak ingin Papanya didekati oleh siapapun juga. " Ya udah, sekarang Papa minta tolong Princess bikinin Papa Juice Jeruk ya Papa haus sekali", kata Rafael pada Putri kecilnya. " Arraseo, just a moment, I go to bring soon",jawab rafaela dengan bahasa yang di campur-campur. Sedikit-sedikit Rafael menjejali Rafaela dengan bahasa Asing.

Bersambung ....
Sumber Utama : http://www.kolombloggratis.org/2013/05/cara-agar-artikel-tidak-bisa-di-copy.html#ixzz3WyDaAVE4